PATI, ynmedia.co.id — Gangguan pasokan air laut yang menghambat produksi garam di Kecamatan Batangan dinilai perlu ditangani melalui pemetaan kondisi secara menyeluruh. Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Nanda Yahya, menilai ketersediaan data menjadi dasar penting sebelum pemerintah menentukan bentuk intervensi.
Menurut Nanda, pemerintah perlu memiliki gambaran rinci mengenai luas tambak yang terdampak, jumlah petani yang mengalami kendala, kondisi produksi, hingga kebutuhan infrastruktur pengairan di kawasan tersebut.
“Data itu penting supaya penanganannya tepat. Kita harus tahu berapa luas lahan yang terdampak, berapa petani yang terkena, kemudian titik mana yang membutuhkan intervensi,” ujar Nanda.
Saat ini, lebih dari 300 hektare tambak garam di Kecamatan Batangan dilaporkan belum mampu berproduksi secara maksimal. Kondisi tersebut berkaitan dengan sulitnya air laut masuk ke petakan tambak akibat rendahnya pasang.
Nanda mengatakan persoalan tersebut menunjukkan perlunya data yang tidak hanya mencatat luas lahan produksi. Informasi mengenai produktivitas, jumlah petani, serta kondisi sarana pendukung juga diperlukan agar kebijakan yang disusun dapat lebih terarah.
Di tingkat Kabupaten Pati, Dinas Kelautan dan Perikanan juga telah merencanakan Survei Produksi Garam Kabupaten Pati Tahun 2026. Survei tersebut antara lain mencakup variabel luas lahan produksi dan jumlah produksi garam.
Menurut Nanda, hasil pendataan dapat dimanfaatkan untuk menyusun kebijakan pengembangan sektor garam secara lebih terukur. Pemerintah nantinya dapat menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan berdasarkan kondisi dan tingkat kebutuhannya.
“Kalau datanya lengkap, pemerintah bisa menentukan prioritas. Mana kawasan yang membutuhkan perbaikan saluran, mana yang membutuhkan sarana produksi, dan bagaimana menjaga produktivitasnya,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi yang dialami petani Batangan memperlihatkan bahwa produksi garam tidak hanya ditentukan oleh faktor cuaca. Ketersediaan air laut sebagai bahan baku utama juga menjadi bagian penting yang perlu diperhitungkan.
Karena itu, Nanda mendorong aspek pengairan turut dimasukkan dalam perencanaan pengembangan tambak garam di Kabupaten Pati. Menurutnya, data mengenai kondisi saluran dan akses air dapat menjadi pijakan untuk menentukan kebutuhan infrastruktur ke depan.
Dengan pemetaan yang lebih lengkap, ia berharap penanganan terhadap kendala produksi garam tidak bersifat sementara, tetapi dapat mendukung keberlanjutan produktivitas petani di kawasan pesisir.
(ADV)










