PATI, ynmedia.co.id — Petani garam di Kecamatan Batangan menghadapi situasi yang cukup berbanding terbalik. Di saat harga garam di tingkat petambak berada pada kisaran Rp780–Rp800 per kilogram, produksi justru terganggu akibat sulitnya memperoleh air laut.
Anggota Komisi B DPRD Pati, Sadikin, mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena peluang ekonomi dari harga garam yang cukup baik tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh petani.
“Ketika harga cukup bagus, seharusnya petani bisa meningkatkan produksi. Tetapi sekarang masalahnya justru air laut sulit masuk ke tambak,” ujar Sadikin.
Lebih dari 300 hektare tambak garam di wilayah Batangan dilaporkan terdampak. Petani harus menunggu air laut kembali pasang, sementara sebagian lainnya menggunakan pompa seadanya untuk memasok air ke tambak.
Menurut Sadikin, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga infrastruktur pengairan tambak.
“Kalau akses airnya lancar, petani memiliki kesempatan lebih besar untuk memanfaatkan harga yang ada. Karena itu, saluran air harus diperhatikan,” katanya.
Ia mendorong pemerintah daerah melakukan pengecekan terhadap saluran menuju kawasan tambak, termasuk melihat kemungkinan adanya pendangkalan yang menghambat aliran.
Namun, Sadikin menegaskan kondisi tersebut perlu dipastikan melalui pemeriksaan lapangan sebelum dilakukan penanganan.
“Kita perlu data dan pengecekan langsung. Kalau memang ada saluran yang bermasalah, harus segera ditentukan langkah perbaikannya,” pungkasnya.
(ADV)










